CAHAYA ILMU

Saat menuntut ilmu Imam Syafi’I mengeluh kepada gurunya “Wahai guru kenapa ilmu yang ku kaji ini susah sekali difahami, bahkan cepat lupa ? Sang guru menjawab, “ilmu itu ibarat cahaya, ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih,”

Makanya kita hangan heran ketika melihat ada orang rajin mendatangi majelis ta’lim atau pengajian nmun sikap dan akhlaqnya tetap buruk, atu seorang pejabat yang sudah bergelar haji dan sederet gelar intlektual di belakang namanya, namun masih bertingkah seperti preman dan munafik, Cuma obral janji. Anak-anak muda harapan  bangsa yang berstatus pelajar dan mahasiswa kerjanya Cuma tawuran dan melakukan tindakan anarkis. Hal itu dikarenakan cahaya ilmu tak mampu menembus kekeruhan hati mereka. Sekuat apapun cahaya ilmu, bila hati telah tertutup kotoran, maka cahaya ilmu tidak akan menmbus hati dan menerangi perilakunya

Salah satu ilmu sukar untuk diserap karena manusia terlalu tamak, rakus, sombong, terlena dengan nikmat semu duniawi dan gemar kemaksiatan, Atau dlam kasus yang lain, ketika seseorang yang hatinya keruh mengkaji ilmu, lalu menampung ilmu, maka ilmu yang diperoleh hanya akn menjadi pemuas nafsu yan kian memperkeruh kondisi hatinya .

Melihat peristiwa –peristiwatragis saat ini terjadi dilingkungan dimana disana tempatnya penggodokan para calon pemimpin negeri terjaditindakan premanisme nyawa melayang begitu saja, akibat dari luapan emosi arogan dan ras dendam yang berkepanjangan belum lagi  tawuran antar mahasiswa  yang dipicu hal-hal yang sepele,murid SD yang berani menganiaya bahkhan membunuh temannya sendiri , sungguh memperhatinkan ,dan timbul seribu Tanya koq bisa yach…intelektual dan para calon pemimpin negeri menjadi beringas dan pembunuh?

Kalau kita korelasikan dengan jawabn guru Imam Syafi’I jelaslah sudah bahwa cahaya  hanya bisa menerangi gelas yang bening dan bersih. Maknanya adalah bahwa ilmu  hanya bisa masuk kepada seseorang, apabila orang tersebut hatinya bersih, dan bagimana hatinya seseorang itu bisa bersih tak lain apabila ditubuh orang tersebut mengalir darah yang diproduksi dari sari-makanan yang diperoleh dengan jalan halal dan banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Artinya ketika kita menginginkan ilmu yang dapat menjadi ladang amal shaleh menjadi sesuatu yang menfaat maka ketika kita menimba ilmu harus disertai dengan hati yang bersih. Hati bersih yang terbebas dari ketamakan dan kerakusan duniawi.Dengan modal inilah kita akan mendapatkan  manfaat ilmu, mudah menerimanya, mudah pula mengamalknnya. Itulah ilmu yang barokah, insya Allah

~ by akromudin on June 28, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: